Senin, 17 Maret 2014

Wahai Partai Politik, Pohon Tidak Salah












Caption : Jalan Krt.Radjiman, Cakung, Jakarta, pepohonan dipasang atribut partai politik (Maulana)

KOPI, Jakarta
- Menjelang pesta demokrasi pada 9 April 2014 mendatang,  kampanye terbuka telah dimulai tepatnya pada minggu(16/3) lalu. Para partai politik serta calon-calon legislatif juga sudah berkampanye,  berkonvoi dan berkumpul di tempat-tempat seperti stadion, tempat bersejarah, serta tempat-tempat yang bisa menampung banyak masa simpatisan partai.

Banyak partai politik serta calon-calon legislatif memasang atribut-atribut partainya di sepanjang jalan, seperti bendera partai dan banner calon legislatifnya di pasang di tiang-tiang listrik dan tempat yang bisa dipasangi atribut parpol.
Sayangnya, pohon-pohonpun tidak terlepas menjadi tempat yang strategis untuk dipasangi atribut parpol, akibatnya pohon dipaku, dibor dan dipasangi atribut. Jika kita mengamati pohon tersebut, maka pada batang pohon yang dipaku jelas merusak pohon, karena membuat infeksi pohon, dan tidak sedap dipandang mata serta merusak keindahan pohon itu sendiri.

Contohnya, seperti terlihat di Jl Radjiman, Cakung, Jakarta Timur banyak bendera parpol yang terpasang di pohon-pohon, tidak hanya satu bendera saja yang dipasang, bisa dua sampai tiga bendera yang dipasang di satu pohon dengan bendera yang berbeda partainya.

Penyalahgunaan  tanaman yang dipasangi atribut  karena politik, memicu keprihatinan para pecinta alam,  karena biar bagaimanapun tanaman adalah makhluk hidup, dan dapat menjadi terinfeksi karena dipaku.
Deri Ariana (23) mahasiswa LP3i yang juga aktivis pencinta alam Malabrata LP3I menyayangkan karena pohon dijadikan sebagai tempat-tempat memasang atribut parpol. "Pohon itu seharusnya dirawat karena pohon itu adalah makhluk hidup yang membuat kesegaran dan keindahan kota, pohon kan tidak salah kenapa harus dipaku untuk memasang atribut parpol ?, kalau paku dicabut maka lubang akan diisi oleh penyakit pada tanaman, bisa jamur, atau cendawan, bisa hama," jelasnya pada pewarta KOPI.

Selaku mahasiswa yang melek politik, Deri menambahkan bahwa jelas-jelas memasang atribut partai politik di pepohonan melanggar peraturan KPU "Pada Peraturan KPU Nomor 15/2013 pasal 17 disebutkan alat peraga kampanye tidak boleh dipasang di beberapa tempat. Yaitu tempat ibadah, rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan, jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman, dan pepohonan. Sekali lagi pohon tidak salah,” paparnya. (*)
berita dan foto oleh : Maulana Yusuf, Jurnalis Mahasiswa Univ Bung Karno, Jakarta

link : 
http://pewarta-indonesia.com/inspirasi/sosial-a-budaya/13472-wahai-partai-politik-pohon-tidak-salah.html

KPU Sosialisasikan Gerakan Tolak Golput

KOPI -  Setelah hari Minggu(9/4) dilaksanakan jalan sehat di berbagai wilayah di Indonesia untuk mengkampanyekan tagline "Ayo Tolak Golput" yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), maka Hari ini, Senin (10/3), KPU DKI Jakarta melakukan sosialisasi ke stasiun Jatinegara, Jakarta Timur.
Tujuannya, mengajak masyarakat yang memiliki Hak Suara untuk menggunakan hak suaranya pada Pemilu 9 April 2014 nanti.

Sosialisasi ini di mulai pukul 08.00 WIB, beserta Aryo Sanjaya selaku salah satu komisioner KPU Jakarta Timur bekerjasama dengan Relawan Demokrasi Jakarta Timur.

Sosialisasi dilakukan dengan membagikan brosur yang terdapat daftar nama calon legislatif Jakarta Timur, serta membagikan aneka gantungan kunci dan gambar tempel yang isinya mengajak memilih tanggal 9 April mendatang, pada masyarakat.

Bagi salah satu warga, Bu Arti(35) warga Jakarta mengatakan sosialisasi yang dilakukan sangat efektif sehingga warga Jakarta Timur dapat mengetahui siapa saja yang akan  mencalonkan diri.

Sementara itu Nurdin selaku Ketua KPU Jakarta Timur mengatakan, "Sosialisasi ini bekerja sama dengan Relawan Demokrasi dengan bertujuan untuk mengingatkan warga jakarta agar menggunakan hak pilihnya pada 9 April mendatang dan mekanisme yang digunakan adalah mencoblos bukan mencontreng seperti yang dilakukan pada pemilu 2009," jelasnya (10/3).

"Sosialisasi ini akan dilakukan sampai menjelang pemilu dengan sosialisasi di sekolah-sekolah,pasar,stasiun dan masyarakat pinggiran" tambahnya.
Sosialisasi Pemilu di Pasar Batu Akik
Setelah sosialisasi di stasiun Jatinegara Komisi Pemilihan Umum Jakarta Timur bersama Relawan Demokrasi  melanjutkan sosialisasi di Pasar Batu Akik Rawa Bening-Jatinegara. Sosialisasi dimulai pukul 10.00 WIB, dengan format sama yaitu pemberian brosur serta atribut lainnya seperti gambar tempel dan pin.
Hal ini guna mengingatkan pada masyarakat luas untuk menggunakan hak pilihnya pada 9 April mendatang.

Sosialisasi ini dilakukan untuk menekan angka Golput yang pada pemilihan umum 2009 lalu yang mencapai 42 %.

Pihak KPU menjelaskan bahwa sosialisasi diadakan untuk menekan angka Golput (golongan putih/tidak mencoblos), dan semoga dengan sosialisasi ini bisa mengajak warga untuk menggunakan Hak Pilihnya pada 9 april 2014.

Selain membagikan brosur dan atribut lainnya, juga melakukan tanya jawab kepada para pedagang dan pengunjung.
Menurut salah satu pedagang batu akik, Aida (35) sosialisasi ini sangat bagus untuk mengingatkan warga untuk mencoblos pada 9 April 2014 mendatang dan pembagian brosur ini jadi kami lebih tahu siapa saja calon wakil rakyat yang mencalonkan diri. (maulana)
Berita oleh :Maulana Yusuf, Jurnalis mahasiswa UBK (Univ Bung Karno) Jakarta.

link: 
http://www.pewarta-indonesia.com/berita/politik/13427-sosialisasi-tolak-golput.html

ATRIBUT PARTAI POLITIK, POHON TIDAK SALAH


Menjelang pesta demokrasi pada 9 april 2014 mendatang, Akhirnya kampanye terbuka dimulai tepatnya pada minggu(16/3) para partai politik serta calon-calon legislatif sudah berkampanye dengan konvoi dan berkumpul di tempat-tempat seperti stadion, tempat bersejarah, serta tempat-tempat yang bisa menampung banyak masa simpatisan partai.

Banyak partai politik serta calon-calon legislatif memasang atribut - atribut partainya di sepanjang jalan, seperti bendera partai dan banner calon legislatifnya di pasang di tiang-tiang listrik dan tempat yang bisa di pasangkan atribut parpol. Pohon pun tidak terlepas menjadi tempat yang strategis untuk dipasangkan atribut parpol, alhasil pepohonan tersebut tidak sedap di pandang mata dan merusak keindahan kota.

Seperti terlihat Dijalan Radjiman cakung jakarta timur banyak bendera parpol yang terpasang di pohon-pohon, tidak hanya satu bendera saja yang di pasang bisa dua sampai tiga bendera yang di pasang di satu pohon dengan bendera yang berbeda partainya.

Deri ariana (23) mahasiswa LP3i yang juga aktivis pencinta alam malabrata LP3I menyayangkan karena pohon dijadikan sebagai tempat-tempat memasang atribut parpol. "Pohon itu seharusnya di rawat karena pohon itu salah satu yang membuat kesegaran dan keindahan kota, pohon kan tidak salah kenapa harus di paku untuk memasang atribut parpol"

Deri menambahkan bahwa jelas-jelas memasang atribut partai politik di pepohonan melanggar peraturan KPU "Pada Peraturan KPU Nomor 15/2013 pasal 17 disebutkan alat peraga kampanye tidak boleh dipasang di beberapa tempat. Yaitu tempat ibadah, rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan, jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman, dan pepohonan. Sekali lagi Pohon tidak salah” .

Selasa, 11 Maret 2014

KARL MARX



KARL MARX
Biografi
Karl Marx adalah seseorang yang lahir dari keluarga progresif Yahudi. Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, walaupun begitu ayahnya cenderung menjadi deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Saudara Herschel, Samuel — seperti juga leluhurnya— adalah rabi kepala di Trier. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl Marx.
Pendidikan
Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835.
Pada usia nya yang ke-17, dimana ia bergabung dengan klub minuman keras Trier Tavern yang mengakibatkan ia mendapat nilai yang buruk. Marx tertarik untuk belajar kesustraan dan filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena ia tak percaya bahwa anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana.  Pada tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik, yaitu Friedrich-Wilhelms-Universität di Berlin. Pada saat itu, Marx menulis banyak puisi dan esai tentang kehidupan, menggunakan bahasa teologi yang diwarisi dari ayahnya seperti ‘The Deity’ namun ia juga menerapkan filosofi atheis dari Young Hegelian yang terkenal di Berlin pada saat itu. Marx mendapat gelar Doktor pada tahun 1841 dengan tesis nya yang berjudul ‘The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature’ namun, ia harus menyerahkan disertasi nya ke Universitas Jena karena Marx menyadari bahwa status nya sebagai Young Hegelian radikal akan diterima dengan kesan buruk di Berlin. Marx mempunyai keponakan yang bernama Azariel, Hans, dan Gerald yang sangat membantunya dalam semua teori yang telah ia ciptakan.
Di Berlin, minat Marx beralih ke filsafat, dan bergabung ke lingkaran mahasiswa dan dosen muda yang dikenal sebagai Pemuda Hegelian Sebagian dari mereka, yang disebut juga sebagai Hegelian-kiri, menggunakan metode dialektika Hegel, yang dipisahkan dari isi teologisnya, sebagai alat yang ampuh untuk melakukan kritik terhadap politik dan agama mapan saat itu.
Pada tahun 1981 Marx memperoleh gelar doktor filsafatnya dari Universitas Berlin, sekolah yang dulu sangat dipengaruhi Hegel dan para Hegelian Muda, yang suportif namun kritis terhadap guru mereka. Desertasi doktoral Marx hanyalah satu risalah filosofis yang hambar, namun hal ini mengantisipasi banyak gagasannya kemudian. Setelah lulus ia menjadi penulis di koran radikal-liberal. Dalam kurun waktu sepuluh bulan bekerja disana menjadi editor kepala. Namun, karena posisi politisnya, koran ini ditutup sepuluh bulan kemudian oleh pemerintah. Esai-esai awal yang di publikasikan pada waktu itu mulai merefleksikan sejumlah pandangan-pandangan yang akan mengarahkan Marx sepanjang hidupnya. Dengan bebas, esai-esai tersebut menyebarkan prinsip-prinsip demokrasi, humanisme, dan idealisme muda. Ia menolak sifat abstrak filsafat Hegelian, impian naif komunis utopis, dan para aktivis yang menyerukan hal-hal yang dipandangnya sebagai aksi politik prematur.
Ketika menolak aktivis-aktivis tersebut, Marx meletakkan landasan karyanya. Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakannya di kalimat pembuka pada buku ‘Communist Manifesto’ (1848) :” Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas.” Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat(kaum paling bawah di negara Romawi).
Akhir dari Kapitalisme
Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme yang berasal dari kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme.
Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. “Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis.[ Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini. – Ideologi Jerman-
Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.
Marx Menikah pada tahun 1843 dan segera terpaksa meninggalkan Jerman untuk mencari atmosfer yang lebih liberal di Paris. Disana ia terus menganut gagasan Hegel dan para pendukungnya, namun ia juga mendalami dua gagasan baru –sosialisme Perancis dan ekonomi politik Inggris. Inilah cara uniknya mengawinkan Hegelianisme, sosialisme, dengan ekonomi politik yang membangun orientasi intelektualitasnya.
Di Perancis ia bertemu dengan Friedrich Engels sahabat sepanjang hayatnya, penopang finansialnya dan kolaboratornya. Engels adalah anak seorang pemilik pabrik tekstil, dan menjadi seorang sosialis yang bersifat kritis terhadap kondisi yang dihadapi oleh para kelas pekerja Kendati Marx dan Engels memiliki kesamaan orientasi teoritis, ada banyak perbedaan di antara kedua orang ini. Marx cenderung lebih teoritis, intelektual berantakan, dan sangat berorientasi pada keluarga Engels adalah pemikir praktis, seorang pengusaha yang rapi dan cermat, serta orang yang sangat tidak percaya pada institusi keluarga. Banyak kesaksian Marx atas nestapa kelas pekerja berasal dari paparan Engels dan gagasan-gagasannya. Pada tahun 1844 Engels dan Marx berbincang lama disalah satu kafe terkenal di Perancis dan ini mendasari pertalian seumur hidup keduanya. Dalam percakapan itu Engels mengatakan, "Persetujuan penuh kita atas arena teoritis telah menjadi gamblang...dan kerja sama kita berawal dari sini." Tahun berikutnya, Engels mepublikasikan satu karya penting, The Condition of the Working Class in England.[  Selama masa itu Marx menulis sejumlah karya rumit (banyak di antaranya tidak dipublikasikan sepanjang hayatnya), termasuk The Holy Family dan The German Ideology (keduanya ditulis bersama dengan Engels), namun ia pun menulis The Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, yang memayungi perhatiannya yang semakin meningkat terhadap ranah ekonomi.
Di tengah-tengah perbedaan tersebut, Marx dan Engels membangun persekutuan kuat tempat mereka berkolabirasi menulis sejumlah buku dan artikel serta bekerja sama dalam organisasi radikal, dan bahkan Engels menopang Marx sepanjang hidupnya sehingga Marx menagbdikan diri untuk petualang politik dan intelektualnya.[10] Kendati mereka berasosiasi begitu kuat dengan nama Marx dan Engels, Engels menjelaskan bahwa dirinya partner junior Marx.[
Sebenarnya banyak orang percaya bahwa Engels sering gagal memahami karya Marx. Setelah kematian Marx, Engels menjadi juru bicara terkemuka bagi teori Marxian dan dengan mendistorsi dan terlalu meyederhanakan teorinya, meskipun ia tetap setia pada perspektif politik yang telah ia bangun bersama Marx. Karena beberapa tulisannya meresahkan pemerintah Prussia, Pemerintahan Perancis pada akhirnya mengusir Marx pada tahun 1845, dan ia berpindah ke Brussel. Radikalismenya tumbuh, dan ia menjadi anggota aktif gerakan revolusioner internasional. Ia juga bergabung dengan liga komunis dan diminta menulis satu dokumen yang memaparkan tujuan dan kepercayaannya.[  Hasilnya adalah Communist Manifesto yang terbit pada tahun 1848, satu karya yang ditandai dengan kumandang slogan politik.
Pada tahun 1849 Marx pindah ke London, dan karena kegagalan revolusi politiknya pada tahun 1848, ia mulai menarik diri dari aktivitas revolusioner lalu beralih ke penelitian yang lebih serius dan terperinci tentang bekerjanya sistem kapitalis. Pada tahun 1852, ia mulai studi terkenalnya tentang kondisi kerja dalam kapitalisme di British Museum. Studi-studi ini akhirnya menghasilkan tiga jilid buku Capital, yang jilid pertamanya terbit pada tahun 1867; dua jilid lainnya terbit setelah ia meninggal. Ia hidup miskin selama tahun-tahun itu, dan hampir tidak mampu bertahan hidup dengan sedikitnya pendapatan dari tulisan-tulisannya dan dari bantuan Engels
Pada tahun 1864 Marx terlibat dalam aktivitas politik dengan bergabung dengan gerakan pekerja InternasionalIa segera mengemuka dalam gerakan ini dan menghabiskan selama beberapa tahun di dalamnya. Namun disintegrasi yang terjadi di dalam gerakan ini pada tahun 1876, gagalnya sejumlah gerakan revolusioner, dan penyakit yang dideritanya menandai akhir karier Marx.[5] Istrinya meninggal pada tahun 1881, anak perempuannya tahun 1882, dan Marx sendiri meninggal pada tanggal 14 Maret 1883.
Dalam hidupnya, Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti. Ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal Pengaruh ini berkembang karena didorong oleh kemenangan dari Marxist Bolsheviks dalam Revolusi Oktober Rusia. Ide Marxian baru mulai mendunia pada abad ke-20.

Demokrasi? memilih salah, tidak memilih salah



Demokrasi? memilih salah, tidak memilih salah
Salam Perjuangan!!
Beberapa waktu lagi kita akan menuju “pesta demokrasi” atau pemilihan umum anggota legislative dan presiden. Nasib bangsa dan Negara lima tahun kedepan akan dipertaruhkan dalam pemilu tersebut, mesin partai sudah sejak lama telah meluncurkan strategi  - strategi guna memenangkan partainya ataupun pribadi yang mencalonkannya.
Kita terkungkung dengan kalimat “Pesta Demokrasi” yang terlintas didalam benak kita ketika mendengar kata “pesta” adalah hura  hura dan senang – senang semata, tapi kenyataannya bahwa “pesta demokrasi” hanya membawa petaka bagi bangsa dan Negara Indonesia. Pasalnya banyak calon anggota legislatif yang dengan percaya diri mencalonkan dirinya kembali guna mendapatkan kursi di parlemen, yang notabene nya dari tahun 2004 - 2009 hingga 2014 mereka tidak maksimal dalam memperjuangkan suara rakyat dikursi parlemen, bahkan yang baru mencalonkan pun tidak akan membawa perubahan.
Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan kepentingan – kepentingan dari partainya saja, tanpa harus memikirkan dari mana mereka mendapatkan kursi menjadi anggota dewan, rakyat Indonesia lah yang menjadikan mereka menjadi anggota dewan. Tetapi tidak pernah kita melihat perubahan bangsa ataupun Negara kita ditangan anggota parlemen.
Kenyataaannya hari ini politisi hanya bisa menyengsarakan rakyat, dengan tingkah kegemarannya melakukan tindakan korupsi berjamaah yang merugikan uang Negara yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Dari tataran pemimpin presiden dan wakil presiden kita diduga tersangkut kasus korupsi bank century, sisi legislatif banyak yang tertangkap tangan anggota dewan kita menyuap dan menerima sogokan ataupun memakan uang rakyat, bahkan yang mengejutkan ketua atau hakim mahkamah konstitusi Indonesia tertangkap tangan sedang menerima uang panas demi melancarkan suatu kasus yang berkembang.
Untuk rakyat Indonesia apakah masih percaya oleh pemilu tahun ini? Masihkah percaya dengan mereka yang gampang mengucapkan janji perubahan dan cuap – cuap kesejahteraan rakyat diawal, tetapi kenyataannya tidak ada perubahan sedikit pun ketika mereka berhasil menduduki kekuasaan. Mari kita tolak semua partai yang hari ini mengikuti pemilu 2014 dan orang – orang yang TIDAK kompeten, karena Negara kita tidak akan menemukan perubahan. Pemilu bukanlah jawaban dari perubahan bangsa ini. Jangan mau menerima uang mereka karena mereka hanya memberikan rupiah guna melancarkan kepentingan busuk mereka, dan sebenarnya uang yang diberikan oleh caleg ataupun capres itu adalah uang rakyat yang seharusnya memang diberikan untuk kesejahteraan rakyat.
Untuk itu kami yang tergabung dalam “ALIANSI MAHASISWA INDONESIA” MENYATAKAN SIKAP:
  1. MASYARAKAT HARUS PINTAR MENGAMBIL SIKAP
  2. TOLAK INTERVENSI ASING
  3. MOSI TIDAK PERCAYA TERHADAP SELURUH PARTAI POLITIK
  4. PEMILU TIDAK MEMBAWA PERUBAHAN SAMPAI SAAT INI

( Universitas Nasional, universitas Bung Karno, universitas Islam Negeri Jakarta, universitas Satya Negara, STMIK)